Dilihat 120
DESKRIPSI
Kemampuan bertahan diri seorang manusia dari lingkungan bisa berasal dari dirinya yang merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa atas disertakanya akal dalam penciptaan manusia atau bisa juga bertambah dari proses berlatih maupun bersentuhan dengan alam sekitarnya. Lingkungan sekitar bisa saja habitat asli atau habitat asing.
Junggle dan Sea Survival merupakan dua contoh mekanisme bertahan manusia terhadap lingkungan sekitar yang bukan habitat aslinya.
Terdapat juga istilah Urban Survival disini manusia dengan segenap skill-nya di tuntut mampu bertahan di lingkungan kota yang notabenenya adalah habitat aslinya.
Sea Survival Training merupakan salah satu pelatihan yang harus di lalui oleh para pekerja di industri Oil & Gas, terutama berlokasi kerja di offshore. Tingkat resiko yang
tinggi kesadaran akan keselamatan makin berkembang serta peraturan–peraturan internasional serta regional yang berlaku menjadikan pelatihan–pelatihan tersebut adalah minimum requirement yang harus dipenuhi di samping pelatihan-pelatihan dengan level yang lebih tinggi.
Lingkungan laut yang bukan habitat asli manusia memiliki karakteristik yang harus di pahami dan dimengerti oleh manusia. Sang Pencipta meemberikan akal kepada manusia bukan di tujukan untuk melawan kehendak alam, melainkan agar manusia dapat mengoptimalkan potensi yang ada di dirinya dalam rangka bersentuhan dengan alam.
Man Over Board (Orang Jatuh ke laut),
platform Colaps (Anjungan runtuh), kebakaran di anjungan, kapal tenggelam, kecelakaan pada saat transfer pekerja dari jetty ke boat, dari boat ke landing anjungan adalah serentetan resiko yang mungkin terjadi di laut lepas maupun muara-muara di tepi laut.
Secara umum kecelakaan di laut bisa di klasifikasikan menjadi 2 (dua) kriteria umum, yaitu kecelakaan yang Controlled dan Uncontrolled. Situasi tercontrolled bila terjadi accident masih memiliki waktu cukup, personal on board dapat di evakuasi menggunakan alat-alat keselamatan yang tersedia baik di kapal maupun di offshore platform (misal : skoci, liferaft) Situasi
Uncontrolled bila terjadi
accident tidak memiliki waktu cukup untuk berpindah ke tempat aman atau fasilitas alat keselamatan atau evakuasi yang tersedia di platform atau di kapal. melompat ke laut merupakan alternative tindakan terakhir, Meninggalkan tempat dengan teknik melompat (
Water
Entry) memerlukan teknik-teknik dan sikap untuk meminimalisasi terjadinya kecelakaan yang fatal.
Selain kewajiban menggunakan lifejacket atau pelampung, Pada kondisi di permukaan air terdapat 3 ( Tiga ) bahaya utama, yaitu mati karena tenggelam, exposesure dengan element alam (misal: sinar matahari, minum air laut, luka bisa mengundang binatang laut, dan dinginya air laut yang bisa membuat hypothermia), bahaya ketiga adalah ter-expose kembali ke bahaya awal. Adapun faktor-faktor yang mendukung kemampuan bertahan hidup seseorang pada saat di laut adalah kekuatan fisik, berat badan, pakaian yang di gunakan, dan penggunaan alat bantu apung. Pakaian yang tebal juga dapat membantu menghangatkan tubuh sementara, pengetahuan yang baik tentang alat bantu apung bisa menambah probabilities survivor untuk bisa bertahan hidup sampaing tim SAR bisa datang ke lokasi hal ini juga menjadi permasalahan mendasar dalam tehnik bertahan hidup ada dua tahapan yaitu pada saat survivor hanya terapung mengunakan lifejacket (pelampung) dan pada saat survivor bertahan hidup menggunakan Liferaft (Rakit penyelamat) survivor akan di hadapkan juga dengan teknik mampu boarding ke liferaft serta mampu mengelola peralatan survival kit yang ada di dalam liferaft dalam hal ini akan mempercepat proses pencarian tim SAR dalam mencari posisi survivor yang berada di dalam liferaft dalam posisi terombang ambing di tengah laut.
Seorang survivor yang melewati pelatihan sea survival training harus mampu mengelola dengan langkah Protection mampu memproteksi personil yang ada erutama keselamatan liferaft dari bahaya, Organization mengelola potensi sdm, rencana dan peralatan survival kit, Location menentukan lokasi dengan mengaktifkan EPIRB, ELT, SART, PLB sehingga posisi dapat di tangkap oleh satelit Cospas Sarsat, dan pada saat melihat object yang dapat mempercepat penyelamatan survivor juga harus mampu mengaktivasi Phyrothecnic Signal cahaya dan asap dengan instruksi
pemakaian yang aman, Comfort kenyaman selama menunggu bantuan datang dengan menjaga suhu tubuh tidak turun akibat kedinginan dengan peralatan serta memenuhi kebutuhan dasar dengan makan dan minuman darurat yang ada di survival kit.
Serangkaian aktifitas Sea Survival Training memerlukan arahan tenaga ahli yang berkopeten di bidangnya sehingga besar harapanya dapat membantu para peserta pelatihan pada saat mengahadapi situasi bertahan hidup di laut tidak hanya teknis saja tetapi di harap kan peserta secara pshicology dalam bertahan hidup.
MANFAAT & TUJUAN
- Memberikan suatu standar pengetahuan tentang tehnik bertahan hidup di laut dengan Fase Controlled dan Uncontrolled.
- Mampu dan mengerti dasar keselamatan, ancaman dan bahaya pada saat menuju tempat atau pada saat bekerja di fasiltas yang ada di laut serta memahami situasi Accident Controlled dan Uncontrolled, Physicology Survival, dan penggunaan perlatan dasar keselamatan.
- Meningkatkan pemahaman tindakan pelaksanaan prinsip-prinsip bertahan hidup yang dapat meningkat Survivability seseorang dalam bertahan hidup.
- Mampu menggunakan PFD type 1 dalam keadaan controlled dan uncontrolled serta mampu mengoprasikan saat swim individu atau berkelompok.
- Mengerti tanda dan gejala hyphothermia serta mampu mencegah dengan sikap HELP dan HUDLE position.
- Mengenal jenis liferaft dan mampu mengaktifasi dalam proses pengembangan secara manual serta paham dengan sistem hidrostatis, serta teknik membalik liferaft dan proses naik ke dalam liferaft (Boarding).
- Mampu mengoptimalkan peralatan survival kit dalam prinsip manajemen liferaft Protec Organization Location Comfort.
- Paham dalam penggunaan alat pendeteksi lokasi EPIRB, ELT, SART, PLB, dan Phyrotecnic Signal Cahaya, Asap, Roket (Flamable), Reflextor heliograp, Day Marker, Radar Reflextor.
- Mengerti prinsip penyelamatan dari fasilitas laut dengan kapal, dari laut dengan pesawat fixed wing (pesawat bersayap), rotary wing (helicopter).
MATERI
1. Pengenalan Bahaya di Laut
- Bahaya Geografis
- Bahaya Mekanis
- Bahaya Biologis
- Bahaya Reaksi
2. Prinsip Bertahan Hidup di Laut
- Insting (Naluri Bertahan Hidup)
- Pengetahuan (Kemampuan Bertahan Hidup)
- Karakter (Kemauan Bertahan Hidup)
3. Ketenangan Fisik saat Bertahan Hidup di Laut
- Tenggelam
- Sakit dan Luka-luka
- Mabuk Laut
- Dehidrasi
- Hypothermia
4. Ketenangan Mental pada Saat Bertahan Hidup di Laut
- Sebelum Kejadian
- Setelah Kejadian
5. Unsur Pendukung Bertahan Hidup di Laut
- Kebutuhan Oksigen
- Kebutuhan Panas
- Kebutuhan Cairan
- Kebutuhan Energi
6. Peralatan Keselamatan di Laut
- Pelampung
- Liferaft
- Lifeboat
7. Perencanaan Survival di Laut
- Perlindungan (Protection)
- Organisasi (Organization)
- Lokasi
- Kenyamanan (Comfort)
8. Sinyal Darurat
- Elektronik Satelit Signal (EPIRB, ELT, PLB)
- Phyrothecnic Signal (Asap, Cahaya, Roket)
9. Pencarian dan Penyelamatan (SAR)
- Prinsip Penyelamatan
- Udara (Pesawat fixed wing, Rescue helicopter)
- Laut (Kapal niaga, Kapal penyelamat, Skoci, Liferaft)
- Pulau (Tanda : Body signal, Asap, Cahaya)
- Peralatan penyelamatan (Rescue : Sling, Basket, Jangkar)